Masih banyak hal yang belum aku lakukan dengan benar di tahun 2017 kemarin. Sebenernya sih masih sama di tahun-tahun sebelumnya, kegiatanku kerja-kuliah kerja-kuliah, memang sangat monoton kalo diingat-ingat kembali perjalanan hidupku tahun lalu haha. Entah kenapa yang terlintas dipikiranku sampai saat ini pun hanya itu FOKUS kerja-kuliah. Aku pun gapunya plan sama sekali, seperti diibaratkan hidup tanpa GPS kalo kata Gita Savitri Devi hehe. Tapi aku disini mau menceritakan pengalaman yang membuatku berfikir.
Masalah pekerjaanku di tempat lama, jadi sudah 3 tahun lebih aku bekerja di perusahaan PT. O*** tersebut, entah apa yang membuatku sangat nyaman sekali bekerja di perusahaan tersebut. Karna kalo dilihat dari sisi materi sih ya Alhamdulillah masih bisa mencukupi kebutuhanku sehari-hari untuk bayar kost, bayar kuliah itu sih yang pokok. Eh tapi makan, jajan dsb juga pokok deng :D.
Oke, inti dari tulisan ini adalah bagaimana aku bisa keluar dari zona nyaman (read : PT. O***). Jadi, awal bekerja di bulan Juni tanggal 30 Juni 2014 sampai 30 Oktober 2017 merupakan waktu yang cukup lama menurutku tapi ga kerasa sih. Tepat di pertengahan Oktober aku memutuskan untuk menyerahkan surat pengunduran diriku, ada salah satu alasan yang membuatku begitu yakin untuk resign di bulan tersebut, awalnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari bulan Juli. Tapi, mungkin belum waktunya dan belum ada pengganti yang pas (ceileh pengganti) makanya aku masih bertahan di perusahaan tersebut.
Tapi tepat di awal bulan Oktober aku bener-bener sangat merasakan sedang berada dibawah yang mana ada pergantian team secara mendadak dan itu membuatku sangat terpuruk, yang ingin mengundurkan diri pada saat itu juga. Sungguh, aku benar-benar gabisa terima keputusa itu semua walaupun dari beberapa pihak mencoba mejelaskan padaku dengan berbagai alasan yang menurut mereka sangat bagus potensinya. Pada saat itu aku benar-benar tidak bisa untuk berfikir jernih, hanya bisa menangis dan mengumpat orang-orang sekitarku. Ku hubungi lah kedua orangtuaku, kaka ku yang no 4 dan 3 tapi by chat karena kalo by telp udah pasti gabisa ngomong dan pasti nangis kejer.
Pikiranku kalut semalaman penuh, dan aku bingung nangis pun gaakan merubah apapun, secara itu perusahaan bukan punyaku hehe. Semalem dengan bingung akhirya aku chat kembali kakaku yg no 4, tapi kupastikan dia sudah tertidur pulas malam itu. Dan, Shubuhnya dia menelponku menyuruh untuk memantapkan hati dan istikharah. Awalnya aku dikasih pilihan sama kakaku no 4 untuk pulang ke Bandung tinggal dengan dia dan kerja di sana, namun aku masih memikirkan kuliahku yang masih 4 semester lagi di Jakarta. Begitupun dengan kakaku no 3 menawarkan untuk tinggal dengan dia di Cikarang dan kerja disana, namun semua itu aku pikirkan lagi dengan alasan yang sama 'AKU HARUS BERTAHAN DULU DI JAKARTA SETIDAKNYA SAMPAI AKU LULUS KULIAH'.
Lalu kuputuskan untuk lanjut telpon kedua orangtuaku untuk minta do'a mereka, karena aku sangat percaya do'a orangtua yang paling mujarab untuk anaknya, sambil menangis nangis pun kuceritakan semuanya masalah dipekerjaanku saat itu sampai gabisa berkata lagi karena tangisan ku pun sudah pecah. Dengan suaranya yang menenangkan Bapakku dan Ibuku membuatku tenang lagi. Hari demi hari aku coba melewati tantangan baru tersebut tidak lupa di tambah dengan Istikharah untuk mendapatkan jawaban apakah aku harus bertahan di perusaahn itu atau aku memang udah seharusnya keluar dari zona nyaman tersebut. Jujur terasa berat, karena hatiku udah gamau kerja di perusahaan itu, kerjapun jadi ga ikhlas...
Bersambung...
Komentar
Posting Komentar