Hera enak ya kerja di Jakarta pasti uangnya banyak, bisa beli ini beli itu. Begitulah kira-kira omongan segelintiran orang yang di daerah asalku, entah itu tetangga ataupun saudaraku. Aku hanya menanggapi singkat sambil ucap "Alhamdulillah" sambil tersenyum manis. Dan bergumam dalam hati "emang apa yang mereka tau tentang hidup aku di Jakarta seorang diri tanpa ada orang yang ku kenal sebelumnya", tapi aku tidak hentinya selalu mengucapkan syukur karena mereka yang berpikir aku hidup enak di Jakarta banyak uang berarti itu menandakan kalau dari segi fisikku terlihat baik-baik saja. Susah sih kalo harus aku cerita detail ke mereka, dan mungkin kalau aku ceritapun sebenernya mereka tidak ingin tau juga. Di sini aku hanya ingin sedikit curhat suka duka aku hidup di Jakarta seorang diri. Awalku menginjakkan kaki di Jakarta ini saat umurku masih 17thn jalan ke 18thn, banyak orang bilang umurku muda sekali untuk berani merantau di Jakarta kerja terus tanpa saudara. Sebenernya ada sih saudara, keluarga dari kaka iparku, tapi yang namanya saudara bukan sedarah akan agak canggung juga untuk minta pertolongan.
Ga nyangka juga sebelumnya aku bakal kerja dan tinggal di Jakarta karena dulu aku sewaktu masih Sd entah TK selalu berkhayal ketika nonton tv melihat Jakarta yang banyak gedung tinggi, terus artis-artis, makanan-makanan enak (mcd,kfc,aw dll) tapi inilah kenyataanku yang dulunya hanya bisa berkhayal tapi sekarang bisa tinggal di Jakarta. Kadang sewaktu kecil aku berpikir "bisa ga ya aku jauh dari orangtua?" di tinggal beberapa hari aja udah nangis. Namun lambat laun memasuki dunia SMK yang mana selalu terpikir "aku lulus harus langsung kerja nih, kalau bisa keluar kota jangan di Sumedang biar aku bisa lebih mandiri dan penghasilan aku engga segitu-segitu aja". Jujur yang aku cari adalah "UANG". Karena apa? hidup aku dari kecil selalu di ajarin "prihatin" ga kebanyakan anak-anak lain yang kalo mau beli sesuatu dengan gampangnya langsung di beliin atau ga di kasih uang untuk beli sendiri. Sedangkan aku? di ceramahin dulu dengan jurus andalan Bapakku "itu keinginan atau kebutuhan?" ya, aku tau diri yang keadaan orangtua udah gabisa kerja terlalu keras dikarenakan sudah lanjut usia sehingga akupun ga pernah memaksakan keinginanku. Minta kaka-kakakku? aku segan untuk minta karena mereka sendiri sudah punya keluarga masing-masing. Akhirya aku hanya bisa bergumam dalam hati "semoga suatu saat nanti aku bisa membeli barang-barang yang aku mau dengan hasil jerih payah ku sendiri". Adalagi ketika melihat temanku liburan bareng keluarganya ke pantai, dan ke tempat wisata lainpun aku hanya mendengarkan cerita mereka bagaimana bagus dan serunya berlibur ke tempat tersebut dan lagi-lagi bergumam "nanti suatu saat aku bisa kesana juga ko".
Kembali ke awal tinggal di Jakarta, selesai lulus SMK akhirnya aku ke terima kerja di perusahaanku saat ini, untuk bisa sampai ke sinipun tidak mudah. Ada proses seleksi juga, 5 waktu aku selalu berdo'a dan meminta do'a kedua orangtua agar aku bisa lulus dan hampir hopeless juga karena sewaktu ada test sempet ga maksimal tapi tiada hentinya orangtua ku memberi dukungan lewat telp. Tiba saatnya pengumuman taraaaaaaaaa aku lulus dan lebih menyenangkan lagi di tempatkan di Jakarta, tempat yang sering aku khayalkan dari dulu. Awal tiba di Jakarta wahhhhhh itu kan tempat blablabla, itukan busway hahaha norak sih sumpah. Saat itu aku di jemput oleh rekan kerjaku di pool travel lalu di antar ke tempat kost yang akan aku tinggali. Ketika aku tiba di tempat kost tersebut teriak dalam hati ingin nangis "ya allah kenapa tempatnya gini, kamar mandinya juga gini blablabla" gausah di jelasin terlalu detail di sini. Ga lama aku pun langsung telpon kakaku sambil nangis "ii tempatnya kaya gini i, masa ininya ini sih blablabla" kakaku pun hanya menjawab "ya udah kamu jalani aja dulu coba, entar kalo udah dapet gaji bisa cari lagi kost yang lebih dari sekarang" akhinya aku pun berhenti ngeluh sambil bergumam "kerja yang bener, biar dapet bonus" kembali ke pemikiran "UANG".
Hari pertama masuk kerja jengjenggggggg bergumam lagi "aku harus ngapain ini?" sumpah mati kutu ketika awal masuk, kebayang ga sih harus ketemu dengan orang-orang baru dari berbagai suku, agama dan budaya yang udah pada dewasa sedangkan aku? ya ampun masih ngerasa bocah dan di pandang anak bawang..........
pegellllll sebenernya masih belom kelar dan masih sangat panjang tapi nanti ku lanjut di tulisan selanjutnyaa
Komentar
Posting Komentar